Setiap Hati Punya Rahasia
Pengertian bahwa “Ayah, pelindung yang kuat” dan “ibu merupakan pokok anggur” merupakan perumpamaan yang seirng muncul dalam drama drama keluarga. Tetapi dalam kehidupan yang nyata tidaklah selalu demikian.
Engkau hendaknya cukup bijaksana dengan selalu mengingat bahwa nun jauh dipojok lucuk hati suamimu tersebunyi seorang bocah lelaki kecil. Ini mungkin sesuatu yang tak terlihat jejaknya di masa lampau. Tetapi barangkali juga kelihatan.
Pada suatu hari aku menerima telepon dari seorang ayah yang sedang dilanda putus asa. Dengan nada mendesak dia minta agar aku segera menemui anak lelakinya. Keadaan makin lama makin memburuk. “demi Tuhan” mereka membutuhkan pertolongan ini sekarang juga. Tokoh remaja yang bersangkutan itu “membuat keonaran dirumah, disekolah, pendekkata – dia membuat keonaran dimana mana.”
Nah, sehubungan dengan itu kami lalu menetapkan tanggal pertemuan. Tokoh remaha yang menjadi pusat pembicaraan ternyata merupakan seorang anak umur empat belas tahun yang paling kekar yang pernah menginjak kamar kerjaku dipastoran.
Si ayah memperkenalkan kami berdua. Tak ada jawaban! Kemuadian dia memberi semangat kepada anaknya, “nah, keluarkanlah segala unek unekmu, nak!” masih belum ada jawabn juga.
Si ayah tetap berusaha agar anaknya mau membuka mulut, sampai berulang ulang kali. Sementara itu, terlantas dalam pikiranku: aku tak akan tahu apakah makhluk yang jangkung itu bisu atau tuli selama si ayah belum menyingkir.
Maka dengan suata yang cukup tegas kukatakan, “maukah anda menunggu diruang perpustakaan sebentar? Saya ingin bicara sendiri dengan putra Anda.”
Akhirnya kami tinggal berduaan saja.
Mungkin lebih tepat dikatakan bahwa aku hanya sendirian sebenarnya!
Meskipun dia kini bebas untuk membuka mulur dan mengeluarkan segala kemelut dalam hatinya, anak itu tetap bungkam seribu bahasa.
Secara kebetulan aku mempermainkan bola emas kecil yang tergantung pad arloji. Aku selalu berbuat demikian kalau sedang memikirkan langkah langkah paling tepat yang harus kuambil.
Kemudian tanpa terduga bendungan pun terbuka. Mula mula aku tak dapatr menangkap apa yang dikatakannya. Tetapi selang beberapa saat, setekah emosinya mereda, anak itu dapat berbicara lebih teratur.
“aku benci sepak bola.aku tak ingin sedikitpun jadi pemain sepak bola. Dan maukah anda berhenti mempermainkan bola keparat itu?”
Untuk memperpendek kisah ini, kulangkahi saja cerita tentang kunjungan dan pembicaraan kami yang makan waktu berbulan bulan. Kita langsung saja pada akhir kisah ini, untuk menentukan siapa dan dimana sebenarnya letak kesalahannya.
Kau tentu sudah dapat menebak, bukan? Yang keterlaluan adalah si ayah yang hanya mendorong dan mendorong terus.
Ketika kami kemudian meninjau persoalan ini dari pihakorangtua, si ayah mengaku bahwa dia dulu waktu masih dibangku sekolah mengalami kegagalan sebagai pemain sepak bola.
Dengan demikian dalam hati kecilnya tumbuh perasaan malu akan kegagalannya, betapapun segala usaha yang dijalankannya. Namun ketika mempunyai seorang anak lelaki, dia merasa dapat menyalurkan cinta cinta yang dulu selalu didambakannya. “aku sudah ingin menjadikannya seorang atlet sejak aak ini berumur 3 tahun. Sebab itulah umur terbaik untuk memupuk seorang bintang besar. Tetapi anak itu hanya tinggal dirumah dan makan melulu, tak pernah mau melakukan hal hal yang kosntruktif. Disamping itu, latihan latihan sangat sangat baik untuk anak anak bukan? Saya telah berbicara dengan si pelatih dan dia meyakinkan bahwa anakku ini dapat menjadi bintang lapangan asal saja mau menunjukkan usaha sedikit. Kemudian dia dapat mengajukan beasiswa kepada pemerintah negara bagian. Selanjutknya akan dtiba waktunya dia mendapat bayaran tinggi sebagai pemain professional. Amda jangan lupa, saya hanya sekadar memikirkan masa depannya-. “nah, demikianlah kisahnya. Kalau dilanjutkan makin lama makin menjemukan”….
0 testimonials:
Post a Comment